Ditindas Druze: Harapan Pulang Pengungsi Suku Arab Badui di Suwaida Semakin Sirna


Operasi intelijen Israel untuk memprovokasi kelompok Druze membantai warga Arab Badui menimbulkan tragedi berdarah yang melanda Provinsi Suwaida di wilayah selatan Suriah pasca lengsernya Bashar Al Assad.

Aksi seperatisme ini meninggalkan luka mendalam bagi ribuan warga sipil Arab yang kini terlunta-lunta di pengungsian, sebagian besar di Daraa. Konflik sektarian yang melibatkan kelompok bersenjata Druze dan komunitas suku Badui ini tidak hanya menghancurkan bangunan fisik, tetapi juga merobek tenun toleransi yang telah terjaga selama puluhan tahun. Bagi banyak keluarga Badui, mimpi untuk kembali ke tanah kelahiran kini terasa seperti angan-angan kosong di tengah puing peperangan.

Suwaida relatif aman selama revolusi sejak 2011, namun pasca lengsernya Assad, Israel mengaktifkan operasi neo kolonialisme Greater Israel kelanjutan dari Clean Break Memo usai melakukan ratusan serangan udara ke Suriah dan menguasai Quneitra.

Pembantaian kepada warga Arab Badui dirancang untuk memancing reaksi agar Druze dapat berteriak ke dunia sedang dipersekusi oleh pemerintah Suriah.

Milisi Druze Suriah yang digaji Israel dibantu sisa pasukan Assad berhasil melakukan operasinya yang membuat ketakutan warga Arab Badui setempat.
Kisah pilu dialami oleh keluarga Sbeih yang harus merasakan pahitnya disandera oleh kelompok bersenjata saat ketegangan memuncak di wilayah tersebut. Mereka menceritakan pengalaman mengerikan ketika dipaksa tinggal di sebuah gedung sekolah bersama anggota suku Badui lainnya di bawah todongan senjata. Selama tiga malam yang mencekam, mereka hidup dalam ketakutan tanpa kepastian mengenai nasib nyawa mereka sendiri atau masa depan komunitas mereka.

Keadaan menjadi semakin kacau ketika para penjaga mereka tiba-tiba menghilang, yang kemudian memicu kepanikan di antara para sandera untuk segera melarikan diri dari tempat penahanan tersebut. Namun, upaya melarikan diri itu justru berakhir menjadi tragedi maut ketika rentetan tembakan dilepaskan di tengah kegelapan malam yang dingin. Dalam kekacauan tersebut, keluarga-keluarga terpisah dan banyak orang terjebak dalam baku tembak yang tidak terhindarkan di area sekitar gedung sekolah.

Faisal Sbeih, sang kepala keluarga, harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan tiga anggota keluarganya dalam insiden pelarian yang sangat mematikan tersebut.

Salah satu korban tewas adalah putrinya yang baru berusia dua puluh tahun bernama Malak, yang seharusnya merayakan hari pernikahannya tepat sehari setelah kejadian itu. Alih-alih mengenakan gaun pengantin, Malak justru harus meregang nyawa akibat konflik yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

Pasca kejadian tersebut, Faisal melontarkan tuduhan keras terhadap milisi yang setia kepada tokoh agama Druze, Sheikh Hikmat al-Hajari, atas pengusiran paksa terhadap komunitas Muslim Sunni.
Ia merasa ada upaya sistematis untuk membersihkan wilayah Suwaida dari kehadiran suku-suku Badui yang sudah lama bermukim di sana. Padahal, sebelum konflik ini pecah, kedua kelompok masyarakat tersebut dikenal hidup berdampingan secara harmonis tanpa ada gesekan yang berarti.

Dahulu, warga Druze yang kehidupannya lebih mapan karena dukungan rejim Assad dan Badui yang umumnya berekonomi rendah saling berbagi sumber daya alam, air, dan padang rumput untuk ternak mereka dalam semangat kekeluargaan yang erat. 

Namun, Faisal kini merasakan perubahan drastis dalam sikap komunitas Druze yang semula ramah menjadi sangat penuh permusuhan dan kebencian. Ia menyatakan bahwa rasa saling percaya telah hilang sepenuhnya, dan komunitas mayoritas di sana seolah tidak lagi memberikan ruang bagi warga Badui.

Bukti-bukti visual berupa rekaman video memperkuat kesaksian keluarga Sbeih mengenai kondisi penahanan mereka di sebuah properti milik warga Druze sebelum mereka dipindahkan. Saat ini, keluarga yang hancur tersebut terpaksa tinggal di sebuah tenda darurat di desa Nawa, bekerja sebagai buruh tani demi menyambung hidup sehari-hari. Mereka hanya sebagian kecil dari puluhan ribu orang yang kehilangan tempat tinggal akibat gelombang kekerasan yang berlangsung selama satu pekan penuh itu.

Laporan resmi menunjukkan bahwa skala kekerasan ini sangat masif, dengan korban jiwa yang diperkirakan mencapai lebih dari seribu orang. Konflik ini disebut sebagai salah satu kerusuhan sektarian terburuk yang pernah melanda Suriah sejak runtuhnya kekuasaan Bashar al-Assad beberapa waktu lalu. Ketakutan dan dendam kini merasuki kedua belah pihak, menciptakan tembok pemisah yang sulit ditembus oleh upaya perdamaian mana pun.

Di pihak lain, para pemimpin Druze memberikan pernyataan yang berbeda terkait tuduhan pengusiran massal dan serangan terhadap warga sipil Badui di wilayah kekuasaan mereka. Mereka bersikeras bahwa langkah-langkah yang diambil adalah upaya untuk melindungi keluarga Badui dari kemarahan massa yang tidak terkendali saat kekacauan pecah. Mereka juga membantah adanya perintah resmi untuk melakukan pengusiran secara paksa terhadap komunitas Muslim Sunni dari provinsi tersebut.

Namun, pernyataan keras justru datang dari salah satu komandan milisi Druze, Tarek al-Maghoush, yang menyatakan bahwa kembalinya warga Badui tidak mungkin diterima saat ini. Ia berdalin ratusan ribu pengungsi merupaka elemen-elemen dari suku Badui terlibat aktif dalam aksi kekerasan dan penyerangan terhadap warga Druze selama konflik berlangsung.

Baginya, kehadiran warga Badui di Suwaida kini dianggap sebagai ancaman keamanan yang dapat memicu kembali pertumpahan darah yang lebih besar.

Maghoush berargumen bahwa pihaknya telah memberikan perlindungan dan memfasilitasi evakuasi sekitar dua ribu orang Badui setelah tercapainya gencatan senjata yang didukung oleh Amerika Serikat. Ia membela tindakan anak buahnya dengan mengatakan bahwa situasi di lapangan sangat kacau dan sulit untuk membedakan antara warga sipil dan penempur. Menurutnya, evakuasi dilakukan demi keselamatan warga Badui sendiri agar tidak menjadi sasaran aksi balas dendam yang sporadis.

Sheikh Hikmat al-Hajari sendiri secara terbuka mengeluarkan pernyataan yang melarang adanya serangan fisik terhadap warga Badui dan tetap mengakui mereka sebagai bagian dari tatanan sosial.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Informasi Suriah juga turut angkat bicara mengenai situasi yang semakin memanas dan menarik perhatian dunia internasional tersebut. Pemerintah sempat berusaha mendamaian antara kelompok Druze dan Badui, namun Israel membom Damskus sehingga militer Suriah ditarik mundur. Belakangan kelompok Druze mengumumkan berdirinya negara Jabal Bashan yang sudah direncanakan lengkap dengan senjata berat, tank dan pasukan. 

Gambar Benjamin Netanyahu diarak bersama dengan dengan bendera Israel. Parade dilakukan di pemukiman Arab yang tersisa untuk intimidasi. Sepertiga Suwaida menjadi wilayah de facto Jabal Bashan.

Presiden Ahmed al-Sharaa yang memimpin masa transisi telah menjanjikan perlindungan bagi warga Druze mengangkat tangan kanan Al Hajri sebagai kepala keamanan. Uniknya kepulangan pengungsi malah tidak terjadi. Warga Badui kemungkinan akan senasib dengan warga Azeri yang terusir oleh Armenia di Nagorno Karabakh dan setelah puluhan tahun baru bisa kembali.

Perbedaan ideologi dan kepentingan politik ini semakin memperumit proses rekonsiliasi antara suku Badui dan komunitas Druze yang sudah lama bersitegang. Kelompok Druze yang merupakan tiga persen dari total populasi Suriah memang memiliki sejarah panjang dalam mempertahankan identitas dan wilayah mereka dari pengaruh luar.

Namun, kombinasi barisan sakit hati eks pendukung Assad, operasi Mossad dan kekecewaan jatah jabatan telah mendorong konflik ini.

Modus yang sama saat ini terjadi di Hasakah, ketika PKK/SDF mulai meneror warga Arab, menculik dan memblokade hunian Arab untuk menekan Damaskus. Ratusan ribu warga Arab yang mengungsi selama era Assad belum bisa kembali ke Hasakah.

Data statistik mengenai jumlah pengungsi pun masih menjadi perdebatan sengit antara pengamat dan tokoh masyarakat dari kedua belah pihak yang bertikai. 

Mustafa al-Umayri, seorang pengacara Badui yang kini mengungsi, menyebut hampir seluruh populasi Badui di Sweida (yang ia perkirakan lebih dari 120.000 orang) telah pergi. Sebaliknya, peneliti Druze, Mazen Ezzi, menyatakan ada sekitar 35.000 warga Badui di Sweida, dan 25,000 di antaranya telah pergi. Al-Umayri melihat ini sebagai upaya pembersihan etnis secara sistematis yang sangat terorganisir di bawah kedok otonomi.

Di sisi lain, peneliti lokal menyebut angka yang lebih kecil namun tetap signifikan, yang menunjukkan adanya penyusutan drastis populasi Badui di wilayah selatan tersebut. Banyak rumah milik warga Badui dilaporkan telah dibakar atau dijarah, sehingga mereka tidak memiliki tempat untuk kembali jika pun keamanan sudah pulih. Hal ini menciptakan rasa putus asa yang mendalam bagi para pengungsi yang kini menggantungkan hidup pada bantuan kemanusiaan yang terbatas.

Masyarakat internasional, termasuk Amerika Serikat, terus mendorong dilakukannya dialog untuk membuka akses bantuan kemanusiaan dan memulihkan layanan publik di Suwaida.

Namun, tuntutan kemerdekaan atau otonomi luas yang disuarakan oleh pihak Sheikh al-Hajari menjadi batu sandungan besar dalam negosiasi dengan pemerintah pusat. Ketidaksepakatan ini membuat status hukum dan keamanan bagi para pengungsi Badui tetap terombang-ambing tanpa kepastian yang jelas.

Banyak warga yang pesimis bahwa mereka bisa kembali hidup rukun seperti sedia kala mengingat dalamnya luka yang ditimbulkan oleh pembunuhan dan penghancuran harta benda. Rasa saling curiga telah tertanam kuat di hati setiap individu, di mana satu pihak merasa dikhianati dan pihak lain merasa terancam keberadaannya. Rekonsiliasi sosial membutuhkan waktu yang sangat lama dan kemauan politik yang kuat dari para pemimpin di tingkat akar rumput.

Kini, Faisal Sbeih dan ribuan pengungsi lainnya hanya bisa menatap langit dari depan tenda mereka, meratapi hilangnya nyawa orang-orang tercinta dan harta benda yang sirna. Baginya, Suwaida bukan lagi rumah yang hangat, melainkan medan pertempuran yang telah merampas segalanya, termasuk kebahagiaan putrinya yang seharusnya menjadi pengantin.

Tragedi ini menjadi pengingat bahwa warga Arab Suriah belum bisa tidur pulas bahkan setelah rejim Bashar Al Assad lengser. Mereka harus terombang-ambing oleh ambisi geopolitik asing yang terus mengobok-obok Suriah.


SHARE

About peace

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Terbaru