Iran menghadapi tekanan ekonomi serius setelah nilai riyal anjlok drastis, menembus angka sekitar 1,4 juta per dolar AS. Situasi ini memicu demonstrasi besar di berbagai kota karena inflasi melonjak dan harga kebutuhan pokok melambung.
Dalam konteks ini, bergabungnya Iran dengan BRICS memberikan peluang strategis. Aliansi ekonomi ini memungkinkan Iran mengakses jalur perdagangan baru, investasi, dan pembiayaan proyek yang sebelumnya terhambat oleh sanksi internasional.
Namun, efek langsung terhadap nilai riyal tidak instan. Dana investasi atau perdagangan dari BRICS biasanya berjalan bertahap dan terikat pada proyek tertentu, sehingga tidak otomatis menambah cadangan devisa untuk menahan depresiasi mata uang.
Islamic Development Bank (IsDB) menjadi alternatif lain bagi Iran. Lembaga ini dapat menyalurkan pinjaman untuk pembangunan infrastruktur, energi, dan sektor riil, yang berpotensi meningkatkan output ekonomi dan ekspor jangka menengah.
Meskipun demikian, keterbatasan tetap ada. Banyak lembaga keuangan global enggan melakukan transaksi langsung dengan Iran karena risiko sanksi AS dan Eropa, sehingga aliran dana ke pasar domestik menjadi lambat atau terbatas.
Stabilitas riyal tidak hanya soal cadangan devisa, tetapi kepercayaan publik terhadap ekonomi dan pemerintah. Tanpa reformasi domestik, inflasi tinggi dan kurs ganda tetap menekan nilai mata uang, meskipun ada bantuan internasional.
Bergabung dengan forum internasional juga meningkatkan legitimasi politik Iran. Partisipasi di BRICS atau forum ekonomi multilateral memberi sinyal kepada investor regional bahwa Iran membuka diri untuk kerja sama dan reformasi ekonomi.
Strategi jangka panjang yang realistis harus memadukan bantuan luar negeri dengan reformasi ekonomi domestik, seperti disiplin fiskal, pengendalian inflasi, dan pengelolaan kurs yang transparan.
Misalnya, proyek-proyek IsDB di sektor energi atau infrastruktur bisa meningkatkan ekspor non-migas Iran, sehingga menciptakan aliran devisa baru yang lebih stabil untuk mendukung riyal.
BRICS juga dapat membantu Iran membangun mata uang alternatif dalam perdagangan bilateral, misalnya dengan rubel Rusia atau yuan Tiongkok, untuk mengurangi ketergantungan pada dolar dan tekanan pasar valuta asing.
Namun semua ini bersifat jangka menengah hingga panjang, bukan solusi instan. Depresiasi riyal yang sudah ekstrem tetap membutuhkan intervensi pasar, tetapi intervensi itu akan lebih efektif jika didukung aliran devisa nyata dari proyek internasional.
Iran harus memastikan bahwa dana dari BRICS dan IsDB digunakan untuk aktivitas produktif, bukan hanya untuk menutup defisit fiskal jangka pendek, agar efeknya pada nilai riyal lebih bertahan lama.
Langkah tambahan adalah menyederhanakan kurs resmi dan pasar gelap. Selama dualisme kurs tetap ada, spekulasi akan terus menggerogoti riyal, meskipun ada aliran devisa baru.
Reformasi struktural juga penting. Disiplin moneter, transparansi bank sentral, dan pengelolaan subsidi harus diperbaiki agar masyarakat dan pasar percaya pada stabilitas ekonomi.
Di sisi politik, pemerintah perlu menunjukkan konsistensi kebijakan agar investor lokal dan internasional yakin bahwa langkah stabilisasi bukan sekadar reaktif, tetapi berkelanjutan.
Kolaborasi dengan BRICS dan IsDB memberikan platform untuk investasi dan perdagangan regional, yang bisa memperluas basis ekonomi Iran dan meningkatkan cadangan devisa tanpa harus “membakar” emas atau devisa secara cepat.
Selain itu, forum internasional memberi akses teknologi dan pengetahuan yang dapat memperkuat sektor ekspor dan produksi domestik, yang pada akhirnya mendukung nilai riyal.
Namun risiko tetap ada. Sanksi eksternal dan ketidakpercayaan publik bisa membuat aliran dana terhambat, sehingga riyal tetap rawan fluktuasi.
Kesimpulannya, bergabung dengan BRICS, IsDB, dan forum internasional memberi potensi stabilisasi riyal jangka menengah, tetapi keberhasilan tetap tergantung pada reformasi domestik dan penguatan kepercayaan pasar.
Stabilitas moneter Iran hanya akan tercapai jika strategi luar negeri ini digabungkan dengan disiplin fiskal, pengelolaan inflasi, transparansi, dan kebijakan ekonomi yang konsisten—tidak cukup mengandalkan cadangan emas atau devisa sesaat.
0 komentar:
Posting Komentar