Dekade Mandeknya Pembangunan Hadramaut di Yaman

Selama hampir satu dekade terakhir, pembangunan di Hadramaut dinilai berjalan di tempat tanpa kemajuan berarti. Wilayah yang kaya sumber daya dan memiliki posisi strategis ini justru tertinggal dibandingkan harapan masyarakatnya, meskipun berada di luar garis depan perang terbuka.

Banyak kalangan lokal menilai stagnasi tersebut sebagai kegagalan tata kelola wilayah. Proyek-proyek infrastruktur dasar, layanan publik, dan pemulihan ekonomi tidak menunjukkan lonjakan signifikan sejak konflik Yaman berkepanjangan memasuki fase regional.

Ironisnya, muncul perbandingan yang semakin sering terdengar di kalangan warga, bahwa sejumlah wilayah yang berada di bawah kendali Houthi justru terlihat lebih terorganisasi dan mengalami kemajuan relatif dalam layanan dasar. Perbandingan ini menjadi indikator kekecewaan publik di Hadramaut.

Dalam narasi yang berkembang, Dewan Transisi Selatan (STC) bersama Uni Emirat Arab kerap disebut gagal mengelola wilayah-wilayah yang berada dalam pengaruh mereka. Harapan akan stabilitas dan pembangunan pascakonflik tidak terwujud secara nyata di lapangan.

Seandainya pengelolaan wilayah tersebut berhasil dan membawa kemajuan ekonomi serta kesejahteraan, sebagian besar masyarakat diyakini akan mendukung tanpa ragu. Namun realitas yang terjadi justru memunculkan rasa frustrasi yang terus menumpuk.

Salah satu simbol paling kuat dari stagnasi ini adalah Bandara Internasional Riyan di Mukalla. Bandara yang pernah menjadi urat nadi Hadramaut itu berubah fungsi dan menjadi lambang ketercekikan pembangunan daerah.

Sejak Mukalla dikuasai pada 2016, Bandara Riyan berada di bawah kendali militer Uni Emirat Arab. Alih-alih segera dipulihkan untuk kepentingan sipil, fasilitas tersebut ditutup dan dialihkan menjadi basis militer.

Selama bertahun-tahun, bandara itu praktis keluar dari layanan penerbangan sipil. Berbagai laporan menyebutkan adanya penggunaan fasilitas bandara sebagai pusat komando dan bahkan lokasi penahanan, yang semakin menjauhkan bandara dari fungsi aslinya.

Penutupan Bandara Riyan berdampak luas bagi Hadramaut. Wilayah ini seolah terisolasi dari dunia luar, bukan oleh garis perang, tetapi oleh kebijakan militer yang membatasi akses transportasi udara.

Warga Hadramaut terpaksa menempuh perjalanan darat yang panjang dan berbahaya. Untuk terbang keluar daerah, mereka harus menuju Bandara Seiyun dengan perjalanan hingga tujuh jam melewati gurun, atau bahkan ke Aden dengan waktu tempuh lebih dari dua belas jam.

Beban terberat ditanggung oleh pasien, lansia, dan masyarakat rentan. Tercatat berbagai kisah duka warga yang meninggal dunia karena kondisi fisik mereka tidak mampu bertahan dalam perjalanan darat yang melelahkan demi mendapatkan perawatan medis di luar negeri.

Dampak ekonomi juga sangat terasa. Mukalla sebagai kota dagang dan pelabuhan penting kehilangan daya tarik investasi dan pariwisata karena tidak memiliki akses penerbangan langsung.

Absennya bandara sipil membuat perputaran bisnis melambat, peluang kerja menyusut, dan aktivitas perdagangan regional tidak berkembang. Semua ini memperdalam krisis ekonomi yang telah lama menekan masyarakat.

Dalam konteks inilah, kritik terhadap peran STC dan Uni Emirat Arab semakin menguat. Alih-alih menjadi katalis pembangunan, keberadaan mereka dinilai justru memperpanjang stagnasi dan penderitaan sipil.

Namun, situasi mulai menunjukkan tanda perubahan. Dengan berakhirnya fase dominasi militer Uni Emirat Arab di Bandara Riyan, muncul harapan baru bagi masyarakat Hadramaut.

Otoritas lokal dan lembaga sipil Yaman kini mulai mengambil alih pengelolaan bandara. Fokus utama diarahkan pada pengembalian fungsi Bandara Riyan sebagai fasilitas pelayanan publik murni.

Proses rehabilitasi dan modernisasi bandara sedang berlangsung secara intensif. Pembaruan perangkat navigasi, perluasan terminal, serta peningkatan layanan darat dilakukan untuk memenuhi standar operasional penerbangan.

Aktivitas di kawasan bandara yang sebelumnya sunyi kini kembali terlihat. Pekerja, teknisi, dan aparat sipil terlihat bekerja untuk mempersiapkan fase baru konektivitas udara Hadramaut.

Menurut rencana dan proyeksi yang beredar, Bandara Riyan akan segera kembali melayani penerbangan domestik dan internasional. Hal ini diharapkan mengakhiri penderitaan perjalanan darat yang panjang dan berisiko.

Kebangkitan kembali Bandara Riyan dipandang sebagai ujian penting. Jika dikelola dengan baik, fasilitas ini dapat menjadi pintu masuk pemulihan ekonomi Hadramaut dan bukti bahwa pembangunan baru benar-benar dimulai setelah satu dekade stagnasi.

SHARE

About peace

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Terbaru