Runtuhnya rezim Bashar al-Assad tidak serta-merta mengakhiri jaringan pendukung setianya. Di balik fase transisi Suriah, muncul peta baru tentang ke mana para loyalis lama ini bergerak dan bagaimana mereka mempertahankan pengaruh, baik secara bersenjata maupun melalui jaringan regional.
Empat kelompok besar kini menjadi sorotan pengamat keamanan. Mereka tidak lagi beroperasi sebagai satu struktur negara, melainkan tercerai-berai dalam format milisi, migrasi militer, dan afiliasi lintas negara yang lebih fleksibel.
Kelompok pertama terkonsentrasi di wilayah pesisir Suriah, khususnya Latakia dan Tartus. Di daerah ini, sisa loyalis membentuk apa yang kerap disebut sebagai batalion pesisir rahasia, beranggotakan mantan aparat intelijen dan pasukan elit lama.
Batalion pesisir ini bergerak secara tertutup, namun sering dituding membuat onar, mulai dari sabotase keamanan lokal hingga intimidasi terhadap otoritas transisi. Keberadaan mereka dipandang sebagai ancaman laten yang memanfaatkan loyalitas sektarian dan jaringan lama rezim.
Kelompok kedua justru muncul di wilayah Suriah Timur yang berada di bawah kendali SDF. Di kawasan ini, terdapat tren baru di kalangan mantan pendukung Assad untuk meninggalkan Suriah dan mengalihkan loyalitas ke Rusia.
Mereka dilaporkan mengungsi ke Moskow dengan skema tidak resmi, lalu mendaftarkan diri sebagai pasukan Rusia dalam perang Ukraina. Imbalannya, keluarga mereka dijanjikan status kewarganegaraan atau perlindungan hukum Rusia.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana konflik Suriah telah terhubung dengan dinamika global. Bagi sebagian loyalis Assad, Rusia tidak hanya sekutu lama Damaskus, tetapi juga jalur keselamatan pribadi dan ekonomi.
Kelompok ketiga bergeser ke selatan, bergabung dengan Garda Nasional yang berafiliasi dengan milisi Druze pimpinan Hikmat al-Hajri. Milisi ini berkembang sebagai kekuatan lokal yang memanfaatkan kevakuman negara.
Bagi mantan loyalis rezim, bergabung dengan milisi Druze dianggap pilihan aman karena struktur ini relatif terlindungi dan memiliki kaitan dengan neokolonialisme Greater Israel. Selain itu, mereka tetap dapat mempertahankan status bersenjata tanpa harus tunduk penuh pada otoritas pusat.
Kelompok keempat memilih jalur lama yang sudah teruji, yakni mengungsi ke Lebanon. Di sana, mereka dilindungi oleh Hezbollah dalam kawasan pengungsian elite yang jauh dari pengawasan internasional.
Di Lebanon, para loyalis Assad ini tidak hanya menjadi pengungsi pasif. Banyak di antaranya direkrut menjadi milisi Hezbollah, memperkuat hubungan ideologis dan militer yang sudah terjalin sejak perang Suriah pecah.
Keempat kelompok ini mencerminkan fragmentasi loyalitas pascajatuhnya rezim Assad. Mereka tidak lagi berjuang atas nama negara Suriah, melainkan demi kelangsungan hidup, identitas, dan jaringan kekuasaan masing-masing.
Di tengah dinamika ini, Rusia tetap memosisikan diri sebagai aktor kunci. Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan kesiapan Moskow untuk mendukung Suriah dalam fase transisi, termasuk menghadapi tantangan ekonomi dan rekonstruksi pascakrisis panjang.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Suriah masih dipandang sebagai mitra tradisional dan penting bagi Rusia di kawasan. Moskow tidak menunjukkan tanda-tanda menarik diri sepenuhnya dari panggung Suriah.
Isu Suriah juga dibahas dalam pertemuan Presiden Vladimir Putin dan Presiden Ahmed Al-Sharra di Moskow pada 28 Januari 2026. Pertemuan itu mengeksplorasi peluang kerja sama di bidang ekonomi, konstruksi, kesehatan, dan olahraga.
Menurut kantor berita Rusia TASS, Moskow melihat proyek bersama sebagai cara mempertahankan pengaruh tanpa harus terlibat langsung dalam konflik bersenjata. Pendekatan ini berbeda dari fase intervensi militer sebelumnya.
Namun, keberadaan loyalis Assad yang tersebar di berbagai milisi dan negara justru menjadi pedang bermata dua bagi Rusia. Di satu sisi, mereka adalah aset jaringan lama. Di sisi lain, mereka berpotensi menjadi sumber instabilitas baru.
Bagi pemerintah transisi Suriah, persoalan ini menjadi tantangan serius. Negara harus menghadapi sisa-sisa rezim lama yang tidak sepenuhnya hilang, tetapi juga belum terintegrasi ke dalam tatanan baru.
Pertanyaan besarnya kini adalah apakah empat kelompok ini akan melemah seiring waktu, atau justru bertransformasi menjadi aktor bayangan yang terus mempengaruhi keamanan Suriah dan kawasan.
Yang jelas, peta kekuatan pasca-Assad menunjukkan bahwa berakhirnya sebuah rezim tidak otomatis mengakhiri pengaruhnya. Jejak loyalis lama masih panjang, berlapis, dan akan terus membayangi masa depan Suriah.
0 komentar:
Posting Komentar