Aden Pasca Hadramaut Dikuasai PLC Yaman

Peta politik dan keamanan Aden mulai mengalami pergeseran signifikan setelah Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman atau PLC berhasil mengonsolidasikan kendali atas Hadramaut dan Al-Mahra. Keberhasilan ini mengubah keseimbangan kekuatan di selatan Yaman dan berdampak langsung pada posisi kelompok-kelompok bersenjata di sekitar Aden.

Dengan jatuhnya dua provinsi strategis itu ke tangan pasukan loyal kepada PLC, Aden kini berada dalam tekanan politik dan militer yang semakin nyata. Kota ini tidak lagi berdiri sebagai pusat kekuatan terpisah, melainkan menjadi target tahap lanjut dalam agenda konsolidasi negara.

Sumber-sumber keamanan menyebutkan bahwa pasukan Dar’ al-Watan atau Shield Forces telah disiapkan sebagai kekuatan pemukul. Rentang pengerahan mereka disebut dimulai dari Ataq hingga Al-Wadiah, menandakan operasi berskala luas yang terkoordinasi.

Misi utama pasukan tersebut adalah melakukan penyebaran cepat di Provinsi Shabwa dan Abyan. Dua wilayah ini dipandang sebagai gerbang strategis menuju Aden sekaligus kantong penting kekuatan Dewan Transisi Selatan atau STC.

Seiring dengan pengerahan itu, peringatan keras telah disampaikan kepada pasukan STC yang masih berada di Shabwa dan Abyan. Mereka diberi tenggat waktu 24 jam untuk menarik diri dari wilayah tersebut.

Ancaman yang disampaikan tidak bersifat simbolik. Sumber yang sama menyebutkan bahwa jika peringatan diabaikan, jalur-jalur utama akan diputus dan setiap upaya pelarian bersenjata akan dihadapi dengan tindakan militer langsung setelah batas waktu berakhir.

Langkah ini menandai perubahan pendekatan PLC dari negosiasi pasif ke tekanan terbuka. Penguasaan Hadramaut dan Al-Mahra memberi kepercayaan diri baru bagi pusat kekuasaan di Aden versi pemerintah.

Secara politik, posisi STC di Aden menjadi semakin terjepit. Basis teritorial mereka di luar kota mulai tergerus, sementara ruang manuver militer semakin menyempit.

Di sisi lain, institusi negara mulai menampilkan wajah yang lebih solid. Kementerian Dalam Negeri menjadi salah satu pilar penting dalam fase ini, baik dalam aspek keamanan maupun legitimasi hukum.

Nama Menteri Dalam Negeri Jenderal Ibrahim Haidan kembali mencuat dalam konteks ini. Di tengah runtuhnya banyak pilar negara pada masa-masa krisis, ia dipandang sebagai figur yang memilih bertahan ketika banyak pihak memilih pergi.

Narasi tentang Haidan tidak lagi sekadar birokrasi. Ia digambarkan sebagai sosok yang tetap berdiri ketika banyak elite melompat meninggalkan “kapal negara” demi keselamatan politik masing-masing.

Ketika kepentingan sempit mendominasi sebagian aktor, Haidan disebut tetap berpegang pada gagasan republik dan negara. Sikap ini memberi kontinuitas pada institusi keamanan di saat legitimasi negara nyaris runtuh.

Kini, dengan situasi berbalik arah, figur-figur yang bertahan mulai memetik hasil dari kesabaran politiknya. Negara yang sempat dianggap karam perlahan kembali berlayar dengan arah yang lebih jelas.

Dalam konteks Aden, kebangkitan otoritas negara ini membawa implikasi serius. Keberadaan milisi di luar kendali resmi semakin dipandang sebagai anomali yang tidak bisa dipertahankan.

PLC memanfaatkan momentum regional dan keberhasilan militer di timur untuk menata ulang selatan. Aden bukan lagi isu “jika”, melainkan “kapan” dan “bagaimana”.

Tekanan terhadap STC tidak hanya bersifat militer, tetapi juga psikologis dan politik. Penyusutan wilayah pengaruh membuat basis dukungan internal mereka ikut tergerus.

Pada saat yang sama, narasi negara mulai kembali menguat. Stabilitas, hukum, dan satu komando keamanan kembali dipromosikan sebagai solusi tunggal pasca-konflik panjang.

Aden kini berada di persimpangan sejarah. Kota ini dapat menjadi simbol kembalinya negara, atau justru medan benturan terakhir antara konsep negara dan kekuatan milisi.

Dengan pasukan pemukul telah disiapkan dan garis politik semakin tegas, ruang abu-abu di selatan Yaman semakin menyempit. Setiap aktor dipaksa memilih posisi secara jelas.

Perkembangan ini juga mengirimkan pesan luas ke kawasan bahwa fase baru sedang dimulai. Selatan Yaman tidak lagi bergerak tanpa pusat, melainkan menuju konsolidasi kekuasaan.

Dalam peta baru ini, mereka yang bertahan pada ide negara kini berada di depan. Sementara yang pernah melompat dari kapal, harus menghadapi kenyataan politik yang berubah drastis.

Aden, dalam waktu dekat, tampaknya tidak lagi sekadar ibu kota sementara, melainkan ujian terakhir bagi proyek pemulihan negara Yaman.

SHARE

About peace

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Terbaru